Rabu, 05 Desember 2012

RPP Bahasa Indonesia



RENCANA PEMBELAJARAN

Bidang Studi               : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester            :  IV (Empat) / II (dua)
Alokasi Waktu             :  3 x 35 menit


A.  STANDAR KOMPETENSI
 8. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk karangan, pengumuman, dan pantun anak.
B. KOMPETENSI DASAR
8.1 Menyusun karangan tentang berbagai topik sederhana dengan memperhatikan penggunaan ejaan (huruf besar, tanda titik, tanda koma, dll)
C. INDIKATOR
8.1.1 Menentukan tema atau topik karangan
8.1.2 Menyusun kerangka karangan
8.1.3 Menyusun karangan dengan menggunakan gambar seri
8.1.4 Merevisi karangan dengan memggunakan bahasa dan ejaan yang
         disempurnakan
8.1.5 Mengedit karangan sesuai dengan gaya bahasa
8.1.6        Membaca hasil karangan dengan intonasi yang tepat
A.  TUJUAN PEMBELAJARAN
1.      Dengan penjelasan guru siswa dapat menentukan topik karangan berdasarkan gambar dengan benar
2.      Dengan peragaan gambar seri siswa dapat menyusun kerangka karangan berdasarkan urutan gambar dengan benar
3.      Dengan peragaan gambar seri siswa dapat menyusun karangan dengan menggunakan bahasa dan ejaan yang disempurnakan
4.      Dengan penjelasan siswa dapat merevisi karangan dengan bahasa dan ejaan yang benar.
5.      Dengan peragaan gambar seri siswa dapat mengedit karangan dengan gaya bahasa yang disempurnakan dengan bahasa yang runtut
6.      Dengan peragaan gambar siswa dapat menggunakan tanda baca dan huruf besar dengan memperhatikan tata bahasa
7.      Dengan penugasan siswa dapat membacakan hasil karangan dengan intonasi yang tepat di depan kelas
B.  LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
a.       Kegiatan Awal
1.      Menyiapkan kelengkapan pengajaran
2.      Berdo’a
3.      Mengambil Absen
4.      Menjelaskan tujuan pembelajaran
b.      Kegiatan Inti
Eksplorasi
                      i.            Prapenulisan
1.    Siswa mengamati  gambar yang dipajang guru di depan kelas
2.    Siswa menceritakan gambar yang dipajang guru di depan kelas dipandu guru
3.    Siswa menentukan topik dari tiap-tiap gambar di bimbing guru
4.    Siswa mengurutkan gambar seri yang diacak sesuai dengan perintah guru
5.    Siswa merumuskan kerangka karangan dari topik yang telah ditemukan dibimbing guru
Elaborasi
                  ii.          Penulisan
6.      Siswa mengembangkan gagasan pokok dari tiap-tiap kerangka menjadi karangan utuh.
7.      Siswa menentukan judul karangan sesuai dengan gambar seri dan tulisan yang telah dibuat berdasarkan gambar seri dan kerangka karangan
                iii.          Pascapenulisan
1.      Perbaikan
8.        Siswa menata ulang kata, dan kalimat sesuai dengan gaya bahasa yang benar.
2.      Pengeditan
9.      Siswa memperbaiki tulisan menyangkut huruf kapital, tanda baca dengan melingkari kalimat, kata, huruf, dan tanda baca yang belum sesuai dengan penulisan yang benar.

3.      Publikasi
10.  Siswa membacakan hasil karangan ke depan kelas dengan intonasi yang tepat.
c.       Kegiatan akhir
11.     Siswa dibawah bimbingan guru menyimpulkan pelajaran
12.     Guru mengumpulkan LKS
13.     Siswa mengerjakan evaluasi yang diberikan guru
14.     Guru memberikan penilaian
F.    ALAT DAN SUMBER BELAJAR
A. Sumber Belajar :
Dyah Sriwilujeng, 2008. Bahasa Indonesia Tematik untuk kelas 4. BSE. Depdiknas
Setiati Widihastuti dan Fajar Rahayuningsig.2008. PKN untuk kelas IV SD. BSE. Depdiknas
Amin Mustoha, 2008. Buku Matematika  BSE untuk kelas IV SD. BSE. Depdiknas
B. Alat Peraga:
1.  Gambar Seri

Media gambar seri “Jatuh dari Sepeda”

gambar 5        gambar 14

1                              2

gambar 4       gambar 15

                                        3                                                   4

G.   PENILAIAN
1.      Penilaian Proses
2.      Penilaian Hasil
3.      Prosedur penilaian
·           Proses dan akhir
4.      Jenis Penilaian
·           Sikap
·           Tertulis
5.        Evaluasi
·           Jenis tes                : tes dan non tes
·           Bentuk tess          : Pengamatan dan tulisan
·           Alat tes                 : Lembar penilaian proses dan lembar penilaian
  hasil (terlampir)
H.  METODE PEMBELAJARAN
1.      Diskusi
2.      Tanya Jawab
3.      Demonstrasi
4.      Pemberian Tugas
            Mengetahui
Kepala SDN 39 Tanjung Aur
Kec. Koto Tangah




RINI YOSNITA
NIP. 196301041986032004

Padang, Oktober 2012
Guru Pembimbing




Nurmawilis


Prospek peternakan









Minggu, 25 November 2012

Gelombang Ultrasonik Kelelawar



Kelelawar satu-satu mamalia yang bisa terbang dan sering dikaitkan dengan hantu, vampir, atau syeitan. Hal ini mungkin disebabkan oleh rupa dan bentuk serta keaktifannya di malam hari. Sebenarnya kelelawar bersembunyi di tempat gelap di siang hari dan hanya mencari makan di malam hari. Persoalannya adalah kenapa dan bagaimana kelelawar dapat bergerak leluasa di malam gelap gulita. Sebahagian sifat kelelawar yang alamiah telah menarik perhatian beberapa saintis diantaranya adalah Lazzaro Spalanzani (1794).
Awal penelitian beliau terhadap kelelawar adalah dengan cara membutakan kedua belah matanya, tetapi kelelawar tidak terpengaruh untuk dapat bergerak leluasa di alam bebas pada malam hari serta mengelakkan benda-benda yang menghalanginya. Tetapi ketika beliau merusakkan sistem pendengaran kelelawar, ternyata kelelawar kehilangan pedoman dan tidak mampu bergerak bebas dan tidak mampu mengelak halangan yang ada di depannya.
Persoalan mulai terjawab dan melalui perhatian kepada sistem pendengaran kelelawar ini, Spalanzani menarik suatu kesimpulan bahwa kelelawar terbang dan memandu arah menggunakan gelombang bunyi yang tidak dapat didengar oleh manusia, itulah gelombang ultrasonik.
Menurut Cracknell (1980), hasil penelitian lanjut dapat diketahui bahwa kelelawar mengeluarkan pulsa gelombang ultrasonik dengan frekuensi sekitar 40-50 kHz. Bentuk telinga kelelawar yang seperti corong berfungsi sebagai penerima gelombang ultrasonik yang dibalikkan seperti cara kerja alat radar penerima. Frekuensi ultrasonik akan ditinggikan oleh kelelawar apabila hendak menangkap mangsa secara memintas.
Denyut ultrasonik yang dipancarkan oleh kelelawar akan dipantulkan apabila terkena mangsanya. Fenomena ini seperti gema dimana bunyi dipantulkan apabila tiba di satu media. Pulsa ini kemudian dianalisis oleh sistem otak kelelawar yang agak kompleks untuk menginterpretasi dan mengetahui posisi mangsanya atau objek lain yang akan diterkam.
Kelelawar menggunakan kantung jaringan (web-pocket) yang terletak di bahagian ekor dan dengan bantuan sayapnya untuk memerangkap mangsanya. Lingkungan dengan tingkat kebisingan tinggi tidak akan melemahkan sistem radar yang ada pada kelelawar tetapi jika rekaman gelombang bunyi dirinya sendiri maka akan berpengaruh kepada kemampuan kelelawar untuk menganalisis pantulan denyut pulsa yang diterimanya. Rekaman gelombang bunyi tersebut sebenarnya telah mewujudkan tingkat kebisingan yang hampir sama dan menyerupai gelombang ultrasonik

Sabtu, 24 November 2012

Metode discoveri dalam pembelajaran IPA




                                                                            BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Pendidikan yang berkualitas sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya manusia yang cerdas serta mampu bersaing di era globalisasi, sehingga dengan pendidikan tersebut dapat terbentuk karakter manusia yang mampu berinteraksi dan melakukan banyak hal dilingkungannya, baik secara individu maupun sebagai makhluk sosial.
Pendidikan yang mengembangkan potensi siswa akan mampu mendukung pembangunan dimasa yang akan datang karena siswa tersebut nantinya akan tumbuh menjadi manusia yang mampu menghadapi dan memecahkan masalah kehidupan yang dihadapinya saat ini maupun dimasa yang akan datang, untuk mewujudkan pendidikan yang demikian banyak kendala dan masalah kependidikan yang ditemui.
1
Berdasarkan pengalaman penulis di SD 04 Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang bahwa siswa kurang termotivasi dalam belajar, sehingga mereka kadang keluar masuk kelas, dan mengganggu teman sewaktu pembelajaran sedang berlangsung dalam proses pembelajaran karena guru jarang menggunakan metode pembelajaran yang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa termasuk metode discovery dalam proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran kurang sesuai dengan yang diharapkan, sedangkan dalam pembelajaran siswa  dituntut untuk menemukan sendiri dengan melakukan percobaan untuk membuktikan hipotesanya agar pembelajaran lebih bermakna dan dikuasai siswa.
Untuk mewujudkan pembelajaran yang demikian, guru dituntut untuk memiliki berbagai kompetensi, baik dalam merencanakan pembelajaran, menyampaikan materi pembelajaran, memilih dan menggunakan multi metode, multi sumber dan multi media. Guru sebagai pengelola pembelajaran harus mampu menggunakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang demikian dapat diciptakan oleh guru yang kreatif dengan menciptakan berbagai variasi dalam proses pembelajaran.
Sehubungan dengan hal tersebut, salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada siswa pada saat menduduki bangku sekolah dasar adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau biasa juga disebut dengan sains. Mata pelajaran IPA dapat memberikan beberapa pengetahuan yang sangat penting bagi siswa terhadap alam seperti keberadaan makhluk hidup misalnya: manusia, hewan dan tumbuhan.
Variasi yang dilakukan dalam proses pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Perkembangan kurikulum IPA telah merespon secara proaktif sebagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Sesuai dengan yang dijelaskan dalam Depdiknas. (2004: 3) tentang pembelajaran dibidang IPA sebagai berikut : ” IPA  adalah ilmu yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya sekedar keterampilan, pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja tapi juga merupakan proses penemuan”. Jadi guru-guru harus bisa menjadi fasilitator dalam pembelajaran dan harus mampu menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa.
Melihat pengertian IPA di atas,  jelaslah bahwa pendidikan IPA menekankan pada pemahaman alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pengalaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Idealnya pendidikan IPA dijadikan sebagai Wahana bagi siswa untuk menyelidiki dan meneliti alam sekitarnya, karena melalui pembelajaran IPA disekolah siswa dilatih berpikir, melakukan pengamatan dan melakukan percobaan.
Dalam pembelajaran di sekolah sebagian guru sudah menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan namun tidak sedikit juga guru yang belum mampu menyesuaikan metode pembelajaran yang digunakan tersebut dengan materi yang diajarkan. Hal ini dibuktikan dengan masih banyak guru mengajar dengan berceramah, di mana guru masih mendominani pembelajaran dalam pentransferan ilmu dengan menggunakan metode ceramah saja, sehingga siswa menganggap IPA merupakan ilmu hafalan, padahal IPA merupakan suatu wahana untuk mengembangkan potensi yang ada pada dirinya melalui pengamatan dan percobaan.
Berdasarkan pengalaman penulis di kelas V SDN 04 Kampung Olo Kecamatan Nanggalo, pembelajaran IPA diajarkan dengan menggunakan metode yang berdasarkan KTSP, namun penulis belum pernah menggunakan metode discovery. Biasanya guru menjelaskan materi pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional atau siswa hanya ditugaskan membaca buku teks saja. Hal ini menyebabkan siswa pada akhirnya hanya dapat menjawab soal yang bersifat ingatan dan sangat sulit bagi siswa untuk menjawab soalan yang berbentuk analisis. Sehingga pencapaian tujuan pembelajaran IPA yang sesuai dengan kompetensi yang diharuskan oleh kurikulum sangat sulit untuk dicapai.
Siswa terlihat kurang aktif atau tidak ikut berperan pada saat berlangsungnya proses pembelajaran, dengan kata lain, saat berlangsungnya proses pembelajaran guru lebih banyak aktif menerangkan pelajaran, sedangkan siswa hanya bersifat pasif atau menerima yaitu cenderung sebagai pendengar saja. Dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya, persentase nilai mata pelajaran IPA jauh lebih rendah dari mata pelajaran lain, seperti pembelajaran matematika dengan rata-rata kelas ulangan harian 8,28. Hal ini dapat diketahui dari data di SDN 04 kecamatan Nanggalo Kota Padang pada semester I pada tahun ajaran 2009-2010, rata-rata nilai ulangan harian IPA adalah 5,4; sedangkan KKM untuk mata pelajaran IPA adalah 6,5. Sedangkan untuk ketuntasan di kelas V baru mencapai 60%.
Penulis mencoba untuk menerapkan salah satu metode lain yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA yaitu metode Discovery. Menurut Roestiyah (2001:20) menyatakan bahwa: “Metode discovery merupakan suatu metode yang digunakan dalam pembelajaran di mana siswanya mampu memahami dan menerapkan suatu konsep ilmu atau prinsip”. Dengan menggunakan metode discovery diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensinya agar mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah, sehingga dengan menggunakan metode discovery dapat meningkatkan kualitas, proses dan pencapaian pembelajaran IPA.
Sehubungan dengan masalah di atas maka penulis tertarik untuk mengangkat judul “Penerapan Metode Discovery dalam Pembelajaran IPA di Kelas V Sekolah Dasar Negeri 04 Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas maka, yang menjadi rumusan permasalahan secara umum adalah bagaimana penerapan metode discovery dalam pembelajaran perubahan sifat benda di SDN 04 Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang.
Rumusan permasalahan secara khusus adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana rencana pembelajaran dengan metode discovery dalam pembelajaran IPA di kelas V Sekolah Dasar Negeri 04 Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang?
2.    Bagaimana pelaksanaan metode discovery dalam pembelajaran IPA di kelas V Sekolah Dasar Negeri 04 Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang?
3.    Bagaimana peningkatan hasil belajar IPA metode discovery dalam pembelajaran IPA di kelas V Sekolah Dasar Negeri 04 Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang?
C.  Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan metode discovery dalam pembelajaran IPA di kelas V Sekolah Dasar Negeri 04 Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang, sedangkan secara khusus tujuan penelitian adalah untuk:
1.    Mendesripsikan rancangan penerapan metode discovery dalam pembelajaran IPA di kelas V Sekolah Dasar Negeri 04 Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang.
2.    Mendeskripsikan pelaksanaan penerapan metode discovery dalam pembelajaran IPA di kelas V Sekolah Dasar Negeri 04 Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang.
3.    Mendeskripsikan penilaian penerapan metode discovery dalam pembelajaran IPA di kelas V Sekolah Dasar Negeri 04 Kampung Olo Kecamatan Nanggalo Padang.
D.  Manfaat Penelitian
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pembelajaran IPA di Sekolah Dasar khususnya dalam pembelajaran perubahan sifat benda. Secara praktis hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi seluruh pihak, antara lain:
1.    Sebagai pedoman bagi guru dalam memilih metode yang tepat dalam pembelajaran IPA di kelas V Sekolah Dasar.
2.    Sebagai masukan bagi kepala sekolah dan pihak terkait dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di Sekolah Dasar.
3.    Sebagai salah satu cara untuk meningkatkan hasil siswa pada pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
4.    Menambah wawasan penulis dalam mengetahui penerapan metode dalam pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
KOMPONEN DALAM
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH


TUGAS
PENULISAN KARYA ILMIAH


Disusun Oleh :
Nama     : Sri Kurnia Latifa
NIM     : 1202691
Jurusan     : Manajemen










FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012/2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Komponen Dalam Manajemen Berbasis Sekolah. Penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Penulisan Karya Ilmiah semester I Program S-1 Manajemen FE UNP. Penulisan makalah ini dapat dilaksanakan atas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca yang budiman demi kesempurnaan makalah ini.
Padang, 2 November 2012

Penulis,

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………… i
HALAMAN PENGESAHAN …………….....………………………………… ii
KATA PENGANTAR ………………………………………………………… iii
DAFTAR ISI …………………...……………………………………………… iv
BAB I PENDAHULUAN ……………………...………………………………. 1
A.    Latar Belakang………………………………………………….……….. 1
B.    Rumusan Masalah …………………………..……….………………….. 2
BAB II PEMBAHASAN …………………….………………………………… 3
A. Komponen dan Manajemen Berbasis Sekolah ………......................……………. 3
A.    Manajemen Kurikulum ……………………….............…………………. 4
B.    Manajemen Pembelajaran ………………………………………….......... 5
C.    Manajemen Tenaga Kependidikan …………………………………….. ..6
D.    Manajemen Kesiswaan ………………………………………….………..7
E.    Manajemen Keuangan …………………………………….………….......8
F.    Manajemen Sarana dan Prasarana ………………………………………. 9
G.    Manajemen Hubungan Kemasyarakatan …………………………..........10
H.    Manajemen Layanan Khusus…………………………………..……..… 11
BAB III PENUTUP……………………………………………..……….…….. 12
A.    Kesimpulan ……………………………………………..……………… 12
B.    Saran………………………………………………..……….………….. 12
DAFTAR PUSTAKA……………………………………..……………..…….. 13
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Balakang
Dewasa ini globalisasi telah membawa perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai lingkungan termasuk lingkungan pendidikan. Salah satu contoh perubahan mendasar yang sedang digulirkan saat ini adalah Manajem Berbasis Sekolah. Pemerintah telah melakukan sosialisasi ditingkat sekolah dasar pada khususnya tentang pengaruh dan kegunaan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap peningkatan mutu dan kualitas sekolah menuju kearah yang lebih baik, akan tetapi hal tersebut seolah tidak mendapat respon yang positif dari pihak sekolah. Terbukti dengan masih banyaknya angka partisipasi pendidikan nasional yang kurang baik dan kualitas pendidikan tetap menurun. Diharapkan pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah sesuai dengan anjuran yang diberikan sehingga Manajemen Berbasis Sekolah dapat berhasil mengangkat kondisi dan memecahkan masalah pendidikan yang ada. Hal tersebut diharapkan akan bermuara pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Dalam Manajemen Berbasis Sekolah, sekolah memiliki wewenang yang besar dalam mengelola kebijakannya. Oleh karena itu, kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola sekolah sangatlah penting, selain peran guru, siswa, maupun peran serta masyarakat tentunya. Dalam pengeolaan sekolah diperlukan suatu kemampuan manajerial. Dalam buku Manajemen Berbasis Sekolah, Nurkholis (2003: 120) menyatakan bahwa: "Sebagai manajer, kepala sekolah harus memerankan fungsi manajerial dengan melakukan proses perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan dan mengoordinasikan."
Dari hal tersebut jelas terlihat bahwa kepemimpinan kepala sekolah sangatlah vital dalam pengelolaan sekolah. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya sebuah sekolah apabila kepala sekolah tidak memiliki kemampuan manajemen (sebagai manajer) maka yang terjadi adalah kesemrawutan pengelolaan, baik itu pengelolaan kurikulum, pengelolaan pembelajaran, pengelolaan tenaga pendidik dan kependidikan, pengelolaan kesiswaan, pengelolaan keuangan, pengelolaan sarana dan prasarana, pengelolaan hubungan kemasyarakatan, serta pengelolaan layanan khusus. Akan tetapi, pengelolaan tersebut tidak semata-mata tugas dari kepala sekolah saja. Dibutuhkan kerjasama yang baik antara komponen sekolah itu sendiri. Baik dari guru, siswa, orang tua siswa, maupun komite sekolah. Apabila kerjasama terjalin dengan baik, maka tujuan pendidikan yang diharapkan akan lebih mudah tercapai.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, terdapat beberapa rumusan masalah dalam kaitannya dengan komponen Manajemen Berbasis Sekolah, yaitu sebagai berikut:
1.    Apakah pengertian dari komponen dan Manajemen Berbasis Sekolah?
2.    Bagaimanakah Manajemen Kurikulum?
3.    Bagaimanakah Manajemen Pembelajaran atau Pengajaran?
4.    Bagaimanakah Manajemen Ketenagaan?
5.    Bagaimanakah Manajemen Kesiswaan?
6.    Bagaimanakah Manajemen Keuangan dan Pembiayaan?
7.    Bagaimanakah Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan?
8.    Bagaimanakah Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat?
9.    Bagaimanakah Manajemen Layanan Khusus?
Untuk menjawab beberapa rumusan masalah di atas, berikut penjelasannya dalam Bab II.









BAB II
PEMBAHASAN

A. KOMPONEN DAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Komponen adalah bagian yang merupakan seutuh (W.J.S. Poerwodaminto, 1984). Secara umum, komponen merupakan bagian dari sebuah sistem utuh.
Mengenai pengertian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), Nurkholis (2003) menyatakan bahwa:
Manajemen Berbasis Sekolah adalah model pengelolaan sekolah berdasarkan kekhasan, kebolehan, kemampuan, dan kebutuhan sekolah,yang dilakukan secara partisipatif, transparan, akuntabel, berwawasan kedepan, tegas dalam penegakan hukum, adil, prediktif, peka terhadap aspirasi stakeholder, pasti dalam jaminan mutu, professional, efisien dan efektif dalam rangka peningkatan mutu.

Sedangkan menurut Mulyasa (2009) menyatakan bahwa: "MBS adalah salah satu wujud dari reformasi pendidikan, yang menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi peserta didik."
Tidak terlalu berbeda dengan pendapat di atas, Rohiat (2008) juga menyatakan bahwa:
MBS adalah model pengelolaan yang memberikan otonomi, memberikan fleksibilitas atau keluwesan pada sekolah, mendorong partisipasi sekolah secara langsung dari warga sekolah dan masyarakat dan guna meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta perundang-undangan yang berlaku.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat kita pahami bahwa komponen merupakan bagian dari sebuah keutuhan. Dalam hal ini keutuhan yang dimaksud adalah MBS. Jadi komponen dalam MBS memiliki makna bagian-bagian dari Manajemen Berbasis Sekolah. Bagian-bagian tersebut antara lain: Manajemen Kurikulum, Manjemen Keuangan, dan sebagainya.
B. MANAJEMEN KURIKULUM
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Kurikulum SDN 3 Tamanwinangun, 2010:5). Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Perencanaan dan pengembangan kurikulum nasional pada umumnya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasioanal (sekarang Kementerian Pendidikan Nasional-red) pada tingkat pusat. Karena itu sekolah merealisasikan dan menyesuaiakan kurikulum tersebut dengan kegiatan pembelajaran. Disamping itu, sekolah juga bertugas dan berwenang untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan setempat.
Menurut Nurkholis (2003:45) menyatakan bahwa: "Sekolah dapat mengembangkan, namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional yang dikembangkan oleh Pemerintah Pusat. Sekolah juga diberi kebebasan untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal."
Pengembangan kurikulum muatan lokal telah dilakukan sejak digunakkannya Kurikulum 1984, khususnya di sekolah dasar (Mulyasa, 2009: 40). Pada kurikulum tersebut muatan lokal disisipkan pada berbagai bidang studi yang sesuai. Dalam kurikulum 1994, muatan lokal tidak lagi disisipkan pada setiap bidang studi.
Jadi intinya adalah dalam pengelolaan kurikulum yang bersifat nasional, sekolah tidak berhak mengurangi isinya. Yang boleh dikembangkan adalah muatan lokal yang disesuaiakan sesuai dengan kondisi dan karakteristik sekolah masing-masing.
C. MANAJEMEN PROGRAM PEMBELAJARAN ATAU PENGAJARAN
Sekolah diharapkan dapat mengembangkan program pengajaran serta melaksanakan pengawasan dalam pelaksanaannya. Dalam proses pengembangan program sekolah, manajer hendaknya tidak membatasi diri pada pendidikan dalam arti sempit, ia harus menghubungkan peserta didik dan kebutuhan lingkungan.
Dalam kepentingan kepala sekolah sebagai manajer, ia harus bertanggung jawab terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian perubahan atau perbaikan program pengajaran di sekolah. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, ada empat langkah yang harus dilakukan. Menurut Mulyasa (2009:41) , empat langkah tersebut yaitu: menilai kesesuaian program yang ada dengan tuntutan kebudayaan dan kebutuhan murid, meningkatkan perencanaan program, memilih dan melaksanakan program, serta menilai perubahan program.
Sekolah diberi kebebasan untuk memilih strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang paling efektif (Nurkholis, 2003:45). Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka dalam proses pembelajaran atau pengajaran ada baiknya bersifat terpusat pada siswa.
Mengenai pembelajaran bersifat pada siswa, Rohiat (2008:65) menyatakan bahwa:
Yang dimaksud dengan pembelajaran berpusat pada siswa adalah pembelajaran yang menekankan pada keaktifan belajar siswa, bukan pada keaktifan mengajar guru. Oleh karena iitu, cara-cara belajar siswa aktif seperti active learning, cooperative learning, dan quantum learning perlu diterapkan.

Berikut beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan program pengajaran:
1. Tujuan yang hendak dicapai harus jelas;
2. Bersifat sederhana dan fleksibel;
3. Sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan;
4. Bersifat menyeluruh dan harus jelas pencapainnya;
5. Ada koordinasi antarkomponen pelaksana program.
Dari beberapa prinsip di atas, apabila dapat dilaksanakan semua maka tujuan yang diharapkan akan lebih mudah tercapai. Selain itu, dalam pengelolaan sekolah harus ada pembagian tugas guru, penyusunan kalender pendidikan, program-program pembelajaran. Dengan tujuan agar pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan teratur.
D. MANAJEMEN TENAGA KEPENDIDIKAN
Ketenagaan dalam sekolah identik dengan posisi guru sebagai pendidik maupun tenaga kependidikan. Adanya pembagian tugas yang jelas antara ketenagaan yang satu dengan yang lainnya akan menunjang kelancaran dari pelaksanaan pembelajaran di sekolah.
Menurut Mulyasa (2009:42) manajemen tenaga kependidikan (guru dan personil) mencakup (1) perencanaan pegawai, (2) pengadaan pegawai, (3) pembinaan dan pengembangan pegawai, (4) promosi dan mutasi, (5) pemberhentian pegawai, (6) kompensasi, (7) penilaian pegawai.
Mengenai pengelolaan ketenagaan, Nurkholis (2003: 46) menyatakan bahwa:
Pengelolaan ketenagaan mulai dari analisis kebutuhan perencanaan, rekrutmen, pengembangan, penghargaan dan sanksi, hubungan kerja hingga evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah dapat dilakukan oleh sekolah kecuali guru pegawai negeri yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya.

Tugas kepala sekolah dalam kaitannya dengan manajemen tenaga kependidikan bukanlah pekerjaan yang mudah karena tidak hanya mengusahakan tercapainya tujuan sekolah, tetapi juga tujuan tenaga kependidikan (guru dan pegawai) secara pribadi. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut untuk mengerjakan instrumen pengelolaan tenaga kependidikan, seperti daftar riwayat pekerjaan, dan kondisi pegawai untuk membantu kelancaran MBS di sekolah yang dipimpinnya.
E. MANAJEMEN KESISWAAN
Mengenai Manajemen Kesiswaan, Mulyasa (2009:46-47) menyatakan bahwa:
Manajemen kesiswaan adalah penataan dan pengaturan kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik (siswa), mulai masuk sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah. Manajemen kesiswaan bukan hanya berbentuk pencatatan data peserta didik, melainkan meliputi aspek yang lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.
Tujuan dari manajemen kesiswaan yaitu untuk mengatur berbagai kegiatan dalam bidang kesiswaan agar kegiatan pembelajaran di sekolah dapat berjalan dengan lancar, tertib, dan teratur, serta mencapai tujuan pendidikan sekolah.
Tanggung jawab kepala sekolah menurut Sutisna (1985) dalam Mulyasa (2009:46) sebagai berikut:
1.    Kehadiran murid di sekolah dan masalah-masalah yang berhubungan dengan itu;
2.    Penerimaan, orientasi, klarifikasi, dan penunjukkan murid kelas dan program studi;
3.    Evaluasi dan pelaporan kemajuan belajar;
4.    Program supervisi bagi murid yang mempunyai kelainan, seperti : pengajaran, perbaikan, dan pengajaran luar biasa;
5.    Pengendalian dan disiplin murid;
6.    Program bimbingan dan penyuluhan;
7.    Program kesehatan dan keamanan;
8.    Penyesuaian pribadi, sosial, dan emosional.
Nurkholis (2003:46) dan Rohiat (2008:67) menyatakan bahwa: "Yang diperlukan dalam manajemen kesiswaan adalah intensitas dan ekstensinya."
Yang perlu diperhatikan dalam manajemen kesiswaan adalah bahwa sekolah tidak hanya mengembangkan pengetahuan anak saja, akan tetapi juga harus mengembangkan sikap kepribadian, aspek sosial emosional, disamping keterampilan-keterampilan yang lain. Sehingga akan tercipta peserta didik yang cerdas intelejen, emosional, maupun spiritualnya.
F. MANAJEMEN KEUANGAN
Keuangan merupakan salah satu sumber dari sekolah yang secara langsung menunjang kelangsungan dari sekolah tersebut dalam efektifitas dan efisiensi pengelolaan pendidikan. Dalam MB, hal tersebut akan jauh lebih terasa, karena menuntut sekolah untuk merencanakan, mengelola, mengevaluasi, serta mempertanggungjawabkan penggunaan keuangan secara transparan.
Sekolah diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan, sehingga sumber keuangan tidak semata-mata bergantung pada pemerintah (Nurkholis, 2003:46). Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa sekolahlah yang paling memahami kebutuhannya sehingga desentralisasi uang sudah seharusnya dilimpahkan ke sekolah (Rohiat, 2009:66)
Mulyasa (2009:48) menyatakan bahwa: "Sumber keuangan dan pembiayan sekolah secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: (1) pemerintah, (2) orang tua atau peserta didik, (3) masyarakat."
Dalam pengelolaan keuangan di sekolah, diperlukan rasa tanggungjawab yang besar dari semua komponen sekolah agar penggunaannya dapat maksimal dan sesuai sasaran. Dengan penggunaan yang tepat, maka semua kebutuhan sekolah dalam hal peningkatan pembelajaran, baik teknis ataupun non-teknis akan tercukupi sehingga sekolah dapat berjalan dengan lancar, teratur dan bertanggungjawab.
G. MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA (FASILITAS)
Mengenai sarana dan prasarana pendidikan, Mulyasa (2009:49) menyatakan bahwa:
Sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran. Adapun yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju sekolah, tetapi jika dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar, seperti taman sekolah untuk pengajaran biologi, halaman sekolah sebagai sekaligus lapangan olahraga, komponen tersebut merupakan sarana pendidikan.

Manejemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakan sekolah yang bersih, rapi, indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah.
Nurkholis (2003:46) dan Rohiat (2008:66) sepakat bahwa pengelolaan fasilitas seharusnya dilakukan oleh sekolah mulai dari pengadaan, pemeliharaan, dan perbaikan hingga pengembannya.
Melihat alasan dari pendapat di atas, dapat dipahami bahwa dalam MBS, sekolah yang benar-benar mengetahui kondisi dan kebutuhan fasilitas untuk pengembangan sekolahnya masing-masing.
H. MANAJEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT
Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakekatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah.
Menurut Mulyasa (2009:50) tujuan dari hubungan sekolah dengan masyarakat adalah:
1.    Memajukan kualitas pembelajaran, dan pertumbuhan anak;
2.    Memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat;
3.    Menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.
Gambaran dan kondisi sekolah dapat diinformasikan ke masyarakat melalui laporan kepada orang tua siswa, buletin bulanan, penerbitan surat kabar, pameran sekolah, open house, kunjungan ke sekolah, kunjungan ke rumah siswa (home visit), penjelasan oleh staf sekolah, siswa itu sendiri, radio serta laporan tahunan.
Esensi dari hubungan ini adalah meningkatkan keterlibatan, kepedulian, kepemilikan, dan dukungan dari masyarakat, terutama dukungan moral dan finansial yang dari dulu telah didesentralisasikan {Nurkholis (2003:46-47) dan Rohiat (2008: 67)}
Dari beberapa pendapat di atas, dapat kita ketahui bahwa kelangsungan sebuah sekolah tidak bisa lepas dari peran serta masyarakat. Maka, seyogyanya jalinan atau hubungan yang baik antara sekolah dan masyarakat harus dijunjung tingggi. Sekolah merupakan bagian dari masyarakat, pun demikian dengan masyarakat yang harus merasa memiliki sekolah. Keduanya saling membutuhkan demi tercapainya tujuan pendidikan Indonesia.
I. MANAJEMEN LAYANAN KHUSUS
Menurut Mulyasa (2009:52) manajemen layanan khusus meliputi manajemen perpustakaan, kesehatan, dan keamanan sekolah.
1) Manajemen perpustakaan
Perpustakaan yang lengkap dan dikelola dengan baik akan menunjang perkembangan peserta didik dalam hal perkembangan pengetahuan . Disamping itu juga memungkinkan bagi guru untuk mengembangkan pengetahuan secara mandiri, dan juga dapat mengajar dengan metode bervariasi, misalnya belajar individual.
2) Manajemen Kesehatan
Sekolah sebagai satuan pendidikan yang bertugas dan bertanggungjawab terhadap proses pembelajaran, tidak hanya bertugas mengembangkan pengetahuan saja, tetapi juga harus meningkatkan jasmani dan rohani siswa. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Sebagai tindak lanjut dari hal tersebut, maka di sekolah diadakan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) dan pendirian tempat ibadah.
3) Manajemen Keamanan
Dengan tujuan memberikan rasa tenang dan nyaman dalam mengikuti proses belajar dan mengajar bagi komponen sekolah.







BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari beberapa komponen MBS yang telah diuraikan di atas, sebenarnya ada benang merah dari pelaksanaan MBS, yaitu bahwa sekolah mempunyai kewenangan dalam mengelola sekolahnya. Alasan yang menguatkan hal tersebut karena sekolah dianggap lebih memahami dan mengetahui kondisi yang ada di sekolah, baik mengenai program pembelajaran, ketenagaan, kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana, hubungan dengan masyarakat serta layanan khusus. Akan tetapi kewenangan tersebut tidak dalam arti semuanya merupakan kewenangan sekolah. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, diantaranya dalam hal kurikulum. Sekolah hanya berwenang menjabarkan kurikulum nasional dan mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan karakteristik daearahnya masing-masing.
Jadi konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sebagaimana telah diuraikan di atas, esensinya adalah kewenangan yang besar pada sekolah dengan tuntutan kemampuan manajerial dari kepala sekolah dengan dukungan dari guru, peserta didik, masyarakat, serta pemerintah.
B. Saran
1.    Komponen-komponen MBS seperti diuraikan di atas akan berjalan dengan baik apabila kemampuan manajerial kepala sekolah baik dengan didukung oleh semua komponen sekolah yang ada;
2.    Sebaiknya semua komponen dalam sekolah memahami tugas dan kewajibannya masing-masing sehingga akan tercipta kondisi yang baik demi tercapainya tujuan pendidikan nasional.




















DAFTAR PUSTAKA

E. Mulyasa. 2009. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Nurkholis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Rohiat. 2008. Manajemen Sekolah. Bandung: PT Refika Aditama.
Tim Pengembang Kurikulum. 2010. Kurikulum SD Negeri 3 Tamanwinangun.