Sabtu, 30 Maret 2013

Penggunaan Gambar Seri dalam Menulis Narasi



PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS NARASI DENGAN GAMBAR SERI DI SEKOLAH DASAR

Oleh : januar
 
Narrative Writing Skills Improvement with Figure Series in elementary school can be done through classroom action research. Research can use qualitative and quantitative approaches. Expected from the results of the study can improve student learning outcomes. At each cycle to improve student skills in writing narrative by using a series of images obtained from both student outcomes assessment pramenulis average, on stage and at the stage of writing pascapenulisan. Hopefully within each cycle completeness writing results students can achieve mastery values​​

Keyword:
Improvement, Narrative, Photo Series

PENDAHULUAN
Bahasa adalah salah satu alat komunikasi. Melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan satu dengan yang lainnya, dapat saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Oleh karena itu, bahasa mempunyai fungsi sebagai alat untuk berfikir, alat untuk berkomunikasi, dan alat untuk belajar. Pembelajaran bahasa dan sastra diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga meningkatkan kemampuan berfikir, mengungkapkan gagasan, perasaan, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa dan kemampuan memperluas wawasan. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia haruslah diarahkan pada hakikat bahasa Indonesia dan sastra Indonesia sebagai alat komunikasi. Keterampilan berbahasa merupakan fokus tujuan pembelajaran bahasa Indonesia, hal ini berarti bahwa pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan membina kemampuan menggunakan bahasa Indonesia dalam menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Kemampuan berbahasa tersebut tidak terlepas dari empat keterampilan berbahasa yakni menyimak, berbicara, membaca dan menulis.
Keterampilan menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa merupakan hal yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian khusus. Melalui menulis manusia dapat mengenali kemampuan dan potensi yang ada pada dirinya, mengembangkan berbagai gagasan dan menghubung-hubungkan serta membandingkannya dengan fakta. Selain itu, melalui keterampilan menulis manusia mampu mencari dan menyimak informasi serta mengorganisasikan gagasan secara sistematis (Gunansyah, 2006:2)
Aspek pembelajaran bahasa di sekolah dasar yang memegang peranan penting adalah pembelajaran menulis. Tanpa memiliki kemampuan menulis yang memadai sejak dini, anak akan mengalami kesulitan belajar di kemudian hari. Kemampuan menulis menjadi dasar utama, tidak saja bagi pembelajaran bahasa itu sendiri, tetapi juga bagi pembelajaran mata pelajaran lainnya. Menulis secara formal mulai dipelajari ketika mereka duduk di bangku sekolah dasar.  Di sekolah, pembelajaran menulis diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, secara lisan dan tertulis, dan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan Indonesia. Saleh (2006:15) mengemukakan “Keterampilan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat dan perasaan kepada orang lain dalam bentuk tulisan”.
Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan, tidak hanya penting dalam lingkungan pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat. Keterampilan menulis sangat penting, karena merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki siswa. Dengan menulis siswa dapat mengungkapkan atau mengekpresikan gagasan atau pendapat, pemikiran, dan perasaan yang dimiliki. Selain itu juga dapat mengembangkan daya pikir dan kreatifitas siswa dalam menulis.
Pembelajaran menulis siswa akan dapat memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan dan  perkembangan daya nalar, sosial, dan emosionalnya. Mengingat pentingnya  peranan menulis tersebut bagi perkembangan siswa, maka cara guru mengajar harus benar. Menulis merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh siswa sejak mengenal bangku sekolah. Namun, pada  kenyataannya keterampilan menulis para siswa pada saat ini masih rendah. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan mengingat peranan menulis sangat penting dalam proses belajar mengajar.
Menulis di kelas IV dapat dilakukan dalam bentuk narasi. Menulis karangan narasi merupakan karangan yang menjelaskan sejelas-jelasnya suatu kejadian atau peristiwa yang dialami, narasi dapat disampaikan dalam bentuk tulisan atau cerita yang bertujuan menyampaikan berdasarkan perkembangan dari kejadian.
Dalam pelaksanaan menulis narasi pada siswa sekolah dasar sering terlihat tulisan narasi yang dibuat tidak jelas jalan ceritanya, kalimatnya selalu berbolak-balik dan kurang jelas kemana arah daripada narasi yang mereka  buat, sebab siswa kurang mendapatkan pembelajaran yang maksimal tentang menulis narasi dari guru yang mengajar di dalam kelas. Hal ini terjadi di sekolah karena guru kurang mengerti metode mengajar yang cocok untuk menulis narasi bagi siswa.
Sedangkan dari segi guru penyebab kurangnya keterampilan dalam menulis narasi di sekolah disebabkan oleh: Guru kurang bervariasi dalam menggunaan pendekatan, pendekatan yang digunakan guru masih bersifat konvensional. Pendekatan hanya berpusat pada guru. Guru adalah sumber informasi yang utama, sedangkan siswa hanya menerima apa yang dikatakan guru, sehingga menimbulkan kebosanan bagi siswa, dalam proses pembelajaran menulis narasi guru jarang memberikan motivasi kepada siswa. Baik itu motivasi berupa ekspresi wajah ataupun berupa hadiah. Sehingga mengakibatkan siswa merassa bosan dan tidak semangat dalam mengikuti proses pembelajaran. Motivasi berfungsi untuk memudahkan guru mencapai tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran. Pembahasan menulis narasi siswa kurang dilaksanakan. Pembahasan terhadap narasi siswa kurang dilaksanakan oleh guru hal ini disebabkan karena pelajaran bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran sulit untuk diajarkan. Sehinggga waktu untuk pembahasan menulis siswa tidak dilaksanakan.
Berdasarkan pengalaman penulis di SDN 39 Tanjung Aur Kecamatan Koto Tangah, dalam pembelajaran menulis narasi berbagai kesulitan dan hambatan yang dihadapi siswa. Kesulitan dan hambatan tersebut adalah: (1) kesulitan dalam menemukan ide, (2) kesulitan dalam menuangkan ide, biasanya berawal dari ketidaktahuan siswa untuk menulis apa dan darimana memulai menuliskan berbagai ide yang terkandung dalam pikiran siswa. Sehingga sebahagian siswa tidak dapat menuliskan ide pokok dalam buku sampai berakhirnya waktu. (3) kesulitan dalam mengembangkan ide, (4) kesulitan dalam merangkai kata atau kalimat dengan tepat, siswa terkadang merasa bahwa tulisannya tidak sesuai seperti yang diharapkan. Sehingga menimbulkan upaya penggantian kalimat. Selain itu di dalam menulis siswa keterkaitan antar kalimat dan antar paragraf kurang terlihat.
Salah satu mengatasi masalah di atas dengan menggunaan media gambar seri. Media pembelajaran  berupa “gambar seri  adalah kumpulan dari beberapa gambar yang menceritakan suatu kejadian atau peristiwa yang menarik, yang disusun secara acak dan berurutan untuk dijadikan sebuah cerita”. (Azhar, 2003:111). Sedangkan menurut Arif, (2003:29) yang dimaksud dengan “gambar seri adalah rangkaian beberapa gambar yang membuat sebuah cerita jadi menurut penulis gambar seri merupakan serangkaian gambar yang tersusun secara berurutan atau acak sehingga dapat membentuk sebuah cerita”.
Penggunaan gambar seri dalam proses diantaranya dapat mengembangkan daya berfikir siswa, media gambar seri dirasakan sangat tepat untuk membantu siswa dalam membuat tulisan narasi. Dengan melihat gambar siswa dapat menarik kesimpulan dan menguraikan dalam bentuk tulisan. Purwanto dalam Arif (2003:32) mengemukakan tujuan penggunaan gambar seri adalah “untuk melatih siswa menentukan pokok pikiran yang mungkin akan menjadi karangan”.
Sedangkan Arif (2003:32) mengungkapkan tujuan dari penggunaan gambar seri adalah “(1) membantu guru dalam menyampaikan pelajaran dan membantu siswa dalam belajar, (2) menarik perhatian siswa sehingga lebih terdorong untuk belajar, (3) dapat membantu daya ingat siswa, (4) dapat disimpulkan dan digunakan lagi apabila diperlukan pada saat yang lain”.
Berdasarkan permasalahan di atas maka, penulis melakukan penelitian meningkatkan kemampuan menulis Narasi siswa dengan gambar seri yang berjudul: “Peningkatan Keterampilan Menulis Narasi dengan Gambar Seri di Kelas IV SDN 39 Tanjung Aur Kecamatan Koto Tangah Kota Padang”.
METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan kwantitatif. Pendekatan kualitatif digunakan karena pendekatan kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis ataupun lisan yang mendeskripsikan proses kegiatan di lapangan disaat terjadi penelitian sebagai bahan kajian lebih lanjut untuk menemukan kelemahan, sehingga ditentukan penyempurnaannya, menganalisis dan menafsirkan fakta, gejala, dan peristiwa yang terjadi di lapangan sebagaimana adanya dalam konteks dan waktu serta situasi lingkungan yang alami dan menyusun hipotesis sesuai dengan konsep dan prinsip penelitian berdasarkan  data dan informasi yang terjadi di lapangan untuk dilakukan pengujian lebih lanjut.
Nana (2007:202) “pendekatan kualitatif digunakan karena hasil penelitian kualitatif terdiri dari deskripsi analitik, yakni uraian naratif mengenai suatu proses tingkah laku subjek sesuai dengan masalah yang diteliti. Karena data dikumpulkan dari orang-orang yang terlibat dalam tingkah laku alamiah, seperti guru, siswa, orang tua dan lain-lain”.
Ditegaskan oleh Nana (2007:209), tujuan dari pendekatan kualitatif adalah (a) mendeskripsikan proses kegiatan berdasarkan apa yang terjadi dilapangan, (b) menganalisis dan menafsirkan suatu fakta, gejala dan peristiwa yang terjadi di lapangan, (c) menyusun hipotesis berkenaan dengan konsep dan prinsip berdasarkan data dan informasi yang terjadi di lapangan untuk dilakukan pengujian lebih lanjut melalui pendekatan kwantitatif". Pendapat Nana digunakan karena penelitian berlangsung disekolah yang terintegrasi dengan siswa, guru dan orang tua.
Pendekatan kwantitatif digunakan karena peneliti perlu untuk pengolahan data, data yang diperoleh berupa angka-angka sebagai lambang dari peristiwa untuk mengukur hasil belajar peserta didik. Sesuai pendapat Muri (2007:54) ”Data yang dikumpulkan berupa angka sebagai lambang dari peristiwa dan dianalisis dengan menggunakan teknik statistik.”
HASIL PENELITIAN
Siklus I
Pelaksanaan pembelajaran mengikuti tahap-tahap pembelajaran menulis narasi dengan langkah-langkah penggunaan gambar seri. Untuk lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut:
1) Tahap prapenulisan
Pada awal pembelajaran guru mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam pembelajaran seperti lembaran pengamatan, dokumentasi dan sebagainya. Kemudian guru mengatur dan mempersiapkan siswa untuk belajar. Selanjutnya guru menugasi siswa berdoa bersama sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Mengabsen siswa, kemudian guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Siswa memperhatikan guru memajang gambar seri di depan kelas. Kemudian memberikan pertanyaan kepada siswa tentang gambar yang ditampilkan. Setelah mengadakan tanya jawab dengan siswa tentang gambar, guru meluruskan persepsi siswa tentang gambar tersebut. Siswa mendengarkan dengan seksama penjelasan guru mengenai gambar yang dipajang di depan kelas.  Guru menugasi siswa menceritakan gambar dan mengaitkannya dengan pengalamannya ketika berada di lingkungan mereka. Beberapa orang siswa mengacungkan tangan dan guru meminta  salah seorang siswa untuk menceritakannya. Siswa menceritakan dengan malu-malu.
Guru memberikan acungan jempol kepada siswa yang telah menceritakan gambar seri yang dipajang di depan kelas dan mengaitkannya dengan pengalamannya saat berada dilingkungan tempat  tinggalnya. Guru bertanya jawab dengan siswa tentang pengalaman siswa ketika ada banjir. Siswa berebutan mengacungkan tangannya dan menyebutkan tempat mereka yang terkena banjir, dan penyebab terjadinya banjir. Siswa sudah bisa menceritakan pengalamannya sesuai dengan urutan waktu kejadian yang telah dilakukannya. Selanjutnya guru bertanya jawab dengan siswa manfaat dari menjaga lingkungan. Selanjutnya guru dan siswa bertanya jawab dengan siswa tujuan menulis. Kemudian guru menjelaskan langkah-langkah dalam menulis narasi yang akan dilaksanakan oleh siswa.
Setelah mengetahui tujuan dan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam menulis narasi, selanjutnya adalah menentukan topik. Dalam hal ini banyak muncul ide gagasan dari siswa seperti ”banjir, membuang sampah sembarangan”. Kegiatan berikutnya siswa dipandu membuat kerangka karangan. Kerangka karangan diambil dari inti-inti kegitan yang sesuai dengan gambar yang dipajang di depan kelas. Guru memberikan arahan tentang kerangka karangan.
Setelah guru mencontohkan cara membuat kerangka karangan dengan tanya jawab dengan siswa, rumusan kerangka karangan dirumuskan adalah (1) membuang sampah diselokan, (2) sampah dibawa air, (3) sampah menumpuk disaatu tempat, (4) aliran air tertutup, (5) perkampungan jadi kebanjiran. Selanjutnya guru bertanya jawab dengan siswa apa masih ada yang belum dimengerti siswa. Semua siswa menjawab sudah mengerti. Kemudian guru membagikan kertas double folio untuk membuat kerangka karangan. Setelah dibagikan guru menugasi siswa membuat kerangka karangan sesuai dengan gambar seri yang di pajang di depan kelas. Siswa membuat kerangka karangan sesuai dengan urutan gambar seri.
2) Tahap penulisan
Setelah siswa siap membuat kerangka karangan tahap selanjutnya adalah mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan utuh. Di sini guru juga mencontohkan cara mengembangkan kerangka paragraf sehingga menjadi paragraf. Kemudian untuk pengembangkan kerangka karangan yang lain diserahkan kepada siswa. Guru terus mengawasi dan membimbing siswa dalam menuangkan idenya menjadi karangan utuh.
3) Tahap pascapenulisan
Setelah pengembangan kerangka karangan menjadi karangan narasi selesai, dilakukan kegiatan pascapenulisan. Pada tahap ini siswa melakukan perevisian dan pengeditan. Pada tahap ini siswa membaca karangan narasi yang telah dibuat untuk memperbaiki keterkaitan kalimat antar paragraf dan keterkaitan antarkalimat dalam paragraf. Selain itu siswa juga memperbaiki pemakaian huruf kapital, tanda baca, pemenggalan kata dan penggunaan kata penghubung. Dalam perevisian dan pengeditan siswa menggaris bawahi yang dianggap salah, kemudian menggantinya dengan yang betul di atas kalimat/huruf kapital/tanda baca/pemenggalan kata/kata hubung yang dicoret.
Langkah selanjutnya siswa menyalin kembali karangan yang sudah direvisi dan diedit. Sewaktu siswa membacakan karangan, siswa yang lain menyimak. Untuk mencek menyimak atau tidaknya siswa dapat diketahui dengan menanyakan poin-poin kecil yang terdapat dalam karangan yang telah dibacakan. Tidak hanya itu, siswa juga menceritakan kembali karangan yang sudah dibacakan temannya.
Pengamatan terhadap tindakan peningkatan keterampilan menulis narasi dengan menggunakan gambar seri dilaksanakan untuk mendapatkan informasi bagaimana respon siswa dan guru dalam melaksanakan pembelajaran siklus I. Pengamatan dilakukan dengan objektif dan sistematis. Pengamatan dilakukan pada waktu pelaksanaan tindakan pembelajaran peningkatan keterampilan menulis narasi di kelas empat. Dalam kegiatan ini peneliti berusaha mengenal dan mengkombinasikan semua indikator dari proses hasil perubahan yang terjadi, keseluruhan hasil pengamatan direkam dalam bentuk lembar pengamatan.
Keberhasilan tindakan diamati selama dan sesudah tindakan dilaksanakan. Observer mengamati prilaku peneliti dan prilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi. Aspek yang diamati keterlibatan siswa dan peneliti pada tahap pra menulis, menulis, dan pasca menulis. Selama tindakan berlangsung aspek yang diamati adalah: (1) kegiatan guru, (2) kegiatan siswa, (3) hasil karangan yang diperoleh siswa pada siklus I.
Pada tahap prapenulisan, sebagian besar sudah terlaksana sesuai dengan rencana, namun masih jauh dari kesempurnaan. Kegiatan yang terlaksana adalah : ketika mengamati gambar hal yang muncul diantaranya memajang gambar, mengamati gambar dan meminta komentar tentang gambar dan semua deskriptor muncul.
Ketika menceritakan gambar hanya dua deskriptor yang muncul yakni meminta siswa menceritakan gambar yang dipajang dan menceritakan gambar secara klasikal, dua deskriptor tidak muncul yakni meminta siswa menanggapi cerita temannya dan gambar yang dipajang dapat dipahami sesuai dengan penjelasan.
Kegiatan menentukan topik karangan juga muncul dua deskriptor yaitu menjelaskan cara merumuskan topik karangan dan meminta pendapat siswa tentang perkiraan topik yang diajukan, namun dua deskriptor juga tidak muncul yakni topik karangan yang diajukan belum sesuai dengan gambar seri yang dijelaskan dan kurangnya memberikan penguatan.
Dalam merumuskan kerangka karangan deskriptor yang muncul yaitu guru menjelaskan langkah-langkah membuat kerangka karangan dan mengajak siswa secara bersama-sama menentukan kerangka karangan. Skor yang diperoleh pada tahap prapenulisan adalah 10 deskriptor muncul dari 16 skor maksimal, sehingga nilai yang diperoleh adalah 62,5%.
Pada tahap penulisan pelaksanaan perencanaan kurang tercapai, artinya tingkat ketercapaian masih kurang hal ini disebabkan oleh guru kurang membimbing siswa dalam menulis karangan narasi. Siswa kesulitan mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan utuh. Deskriptor yang muncul dalam mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan utuh hanya muncul dua deskriptor dan dua deskriptor tidak muncul yakni kalimat karangan kurangan siswa kurang diawasi dan guru juga kurang memberikan motivasi kepada siswa.
Kegiatan menentukan judul dengan dua deskriptor muncul yaitu membimbing siswa menentukan judul dan meminta prediksi judul kepada siswa dan namun guru tidak memandu siswa dalam merumuskan judul sehingga banyak judul siswa yang jauh dari gambar yang dipajang. Skor diperoleh adalah 4 deskriptor muncul dari 8 skor maksimal dengan hasil 50%.
Pada tahap pascapenulisan tahap revisi dan pengeditan sudah sesuai dengan perencanaan dan sudah terlaksana dengan baik. Setelah dilakukan perevisian dan pengeditan, siswa menyalin kembali karangannya sesuai dengan saran yang diberikan guru. Pada saat perbaikan dengan menata ulang kata dan kalimat guru terlihat meminta siswa mencari huruf, kata dan kalimat yang keliru dalam penulisan serta mengganti huruf, kata dan kalimat tersebut dengan yang benar.
Pada tahap pengeditan tiga deskriptor muncul yaitu meminta siswa memperbaiki tulisan yang salah dan membimbing siswa memperbaiki penulisan sesuai dengan gaya bahasa baku serta meminta kembali siswa menyalin karangan yang telah direvisi. Satu deskriptor tidak muncul yakni kurang memberikan pujian kepada siswa.
Ketika mempublikasikan karangan 2 deskriptor muncul yakni meminta siswa membacakan tulisannya ke depan kelas dan membimbing siswa membaca karangan dengan lafal dan intonasi yang benar. Jumlah deskriptor muncul adalah 7 deskriptor dari 12 deskriptor maksimal. Skor yang diperoleh adalah 58,3%. Skor keseluruhan adalah 21 dari 36 skor maksimal, dengan jumlah adalah 58,33%
2)   Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran
prapenulisan
Pada tahap prapenulisan, kegiatan mengamati gambar adalah memajang gambar, mengamati gambar dan mengomentari tentang gambar dan 1 deskriptor tidak muncul yakni persiapan dalam situasi belajar sepenuhnya siap.
Ketika menceritakan gambar hanya 2 deskriptor yang muncul yakni siswa menceritakan gambar yang dipajang dan mendengarkan cerita guru tentang gambar secara klasikal, dua deskriptor tidak muncul yakni siswa kurang menanggapi cerita temannya dan kurang memahami gambar walaupun sudah dijelaskan.
Kegiatan menentukan topik karangan juga muncul 2 deskriptor yaitu merumuskan topik karangan dan mengeluarkan pendapat tentang perkiraan topik yang diajukan, namun 2 deskriptor juga tidak muncul yakni topik karangan yang diajukan belum sesuai dengan gambar seri yang dijelaskan dan kurangnya mendapatkan penguatan dari guru.
Dalam merumuskan kerangka karangan deskriptor yang muncul yaitu membuat kerangka karangan dan secara bersama-sama menentukan kerangka karangan. Namun kerangka karangan belum sesuai dengan yang diharapkan dan kurang mendapatkan penjelasan lengkap tentang kerangka karangan. Skor yang diperoleh adalah 9 dari 16 skor maksimal yaitu 56,52%
Pada tahap penulisan, kemampuan siswa sudah baik. Kemampuan siswa dalam menyesuaikan ide/gagasan dengan judul sudah terlihat. Deskriptor yang muncul muncul dua deskriptor dan dua deskriptor tidak muncul yakni kalimat karangan kurangan kurang diawasi dan kurang mendapat motivasi dari guru.
Kegiatan menentukan judul dengan dua deskriptor muncul yaitu menentukan judul dan memprediksi judul dan namun tidak dipandu dalam merumuskan judul sehingga banyak judul yang jauh dari gambar yang dipajang. Jumlah Skor adalah 4 dari 8 deskriptor dengan jumlah 50%.
Tahap pascapenulisan siswa diminta merevisi dan mengedit kembali karangan yang sudah dikerjakan. Setelah dilakukan perevisian dan pengeditan, siswa menyalin kembali karangannya sesuai dengan saran guru. Pada saat perbaikan dengan menata ulang kata dan kalimat, siswa terlihat mencari huruf, kata dan kalimat yang keliru dalam penulisan serta mengganti huruf, kata dan kalimat tersebut dengan yang benar, namun 2 deskriptor tidak tampak yakni siswa kurang memahami dalam melakukan perbaikan terhadap karangan dan kurangnya motivasi untuk melakukan perbaikan terhadap karangan.
Pada tahap pengeditan 1 deskriptor tidak muncul yakni kurang menadapat pujian dari guru. Ketika mempublikasikan karangan 2 deskriptor tidak muncul yaitu kurang terarah dalam membacakan hasil karangannya dan kurang bersemangat dalam membacakan karangannya ke depan kelas. Skor yang diperoleh adalah 7 dari 12 skor maksimal dengan jumlah 58,33%. Dengan total skor adalah 20 dari 36 skor maksimal dengan jumlah 55,56%.
2.    Siklus II
Penggunaan gambar seri dalam pembelajaran menulis karangan narasi pada siklus II dilakukan setelah refleksi dari siklus I. Dari hasil siklus I disusun perencanaan dan tindakan siklus II. Data perencanaan dan tindakan dapat diuraikan sebagai berikut:
Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dilaksanakan dalam 6 jam pelajaran untuk dua kali pertemuan. Berdasarkan  perencanaan yang terurai di atas, maka pelaksanaannya megikuti tahap penulisan dan langkah-langkah menulis narasi dengan menggunakan gambar seri. Adapun tahap pelaksanaan pembelajaran menulis karangan narasi tersebut adalah sebagai berikut:
Sesuai dengan perencanaan pembelajaran siklus II ini berlangsung 3 jam pelajaran, yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 28 Mei 2012. Pada pertemuan ini tahap yang dilaksanakan adalah tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap pasca penulisan.
1.    Tahap prapenulisan
Pada tahap awal pembelajaran di awali dengan menyiapkan kondisi kelas, berdoa, mengabsensi siswa. Selanjutnya guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Pada langkah ini, siswa diminta memperhatikan dan mengamati gambar seri yang dipajang di depan kelas, gambar yang dipajang guru adalah gambar seri dengan tema peristiwa ”jatuh dari sepeda”. Kemudian peneliti mengadakan tanya jawab dengan siswa tentang gambar mulai dari gambar pertama sampai gambar yang keempat.
Setelah guru meluruskan persepsi siswa tentang gambar, guru bertanya jawab dengan siswa tentang pengalaman yang mengesankan dan menjadi bekas pengalaman tersendiri bagi siswa. Semua siswa menceritakan pengalamannya, siswa berebut menunjuk tangan, guru memberikan aba-aba siapa yang duduknya paling rapi itu yang duluan menceritakan pengalamannya. Siswa semangat mendengarkan pengaman temannya saat hari raya.
Setelah siswa menceritakan pengalaman sesuai gambar seri yang dipajang di depan kelas, selanjutnya, guru mengajukan pertanyaan tentang menulis karangan narasi. Kemudian guru menjelaskan pengertian menulisan karangan narasi. Sementara siswa mendengarkan. Selanjutnya guru bertanya jawab dengan siswa tentang tujuan dari menulis karangan narasi, dan langkah-langkah menulis karangan narasi.
Setelah bertanya jawab dengan siswa tentang langkah-langkah dalam menulis karangan narasi, guru bertanya kepada siswa apakah ada yang kurang jelas dan yang mau ditanyakan. Siswa menjawab semua sudah jelas. Kemudian peneliti membagikan kertas double folio. langkah selanjutnya adalah membuat kerangka karangan. Dalam pembuatan kerangka karangan guru mencontohkannya dengan bertanya jawab dengan siswa.
Setelah guru mencontohkan kerangka karangan, guru menjelaskan cara mencari kata kunci yang sesuai dengan kerangka karangan, siswa mendengarkan penjelasan guru. Selanjutnya, guru menugasi siswa membuat kerangka karangan sesuai dengan pengalaman menyedihkan dengan tema peristiwa sesuai dengan gambar yang dibagikan guru.
2.    Tahap penulisan
Setelah siswa selesai membuat kerangka karangan, guru menugasi siswa mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan utuh berdasarkan urutan waktu. Dalam menulis karangannya, guru membimbing siswa. Siswapun melaksanakan dengan seksama, tidak ada siswa yang meribut.
3.    Tahap pascapenulisan
Setelah karangan siswa selesai, guru menugasi siswa membaca kembali hasil karangannya. Apakah sudah sesuai atau belum. Siswa membaca karangan dengan seksama.
Kemudian guru membimbing siswa melakukan revisi terhadap isi karangannya apakah sudah sesuai dengan kerangka karangan dan urutan waktunya sudah jelas. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mana yang kurang dipahaminya. Selanjutnya adalah pengeditan terhadap karangan yaitu tentang EYD, tanda baca, dan alinea.
Selanjutnya adalah peneliti menugasi siswa membacakan karangannya ke depan kelas secara bergiliran. Siswa yang lain mendengarkan temannya membacakan hasil karangan temannya. Setelah selesai membacakan karangannya, siswa yang menyimak diberi kesempatan untuk menanyakan kepada temannya tentang karangannya yang dibacakan tadi. Kemudian guru memberikan beberapa buah pertanyaan kepada siswa yang menyimak untuk mengetahui apakah siswa tersebut menyimak atau tidak. Umumnya semua pertanyaan yang diajukan guru dapat dijawab oleh siswa. Hal ini membuktikan siswa menyimak saat temannya membacakan karangan di depan kelas. Setelah siswa membacakan karangan ke depan kelas satu persatu. Guru memberikan rewad kepada siswa yang hasil karangan terbaik berupa coklat.
Pengamatan
Pada tahap ini yang dilakukan oleh observer yang merupakan guru kelas V SDN No. 39 Tanjung Aur. Pengamatan tindakan proses pembelajaran dilaksanakan untuk mendapatkan informasi tentang pelaksanaan proses pembelajaran yang berlangsung pada siklus II. Untuk mengamati aktivitas guru praktisi dan aktivitas siswa dilakukan oleh obsever dengan menggunakan lembar observasi.
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan obsever adalah mengamati jalanya proses pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan gambar seri. Aspek yang diamati adalah:
1)   Aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran
Berdasarkan lembar aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan gambar seri siklus II, yang diisi oleh obsever ditemukan informasi dari aspek guru. Dari aspek guru dalam kegiatan pembelajaran pada siklus II secara umum berlangsung sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya, dimana guru sudah melaksanakan seluruh point-point yang terdapat dalam format pencatatan lapangan dari aspek guru. Peneliti selaku guru telah berhasil memberikan bimbingan kepada siswa untuk mencurahkan sendiri pengalamannya ke dalam kertas.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh observer penelitian terhadap aspek guru  jumlah skor yang diperoleh pada siklus I adalah 80,56.
Guru sudah berupaya memahami dan menerapkan RPP yang sudah dibuat, dari hasil pengamatan ini pelaksanaannya sudah mengalami peningkatan. Guru praktisi memiliki pengalaman pada siklus I. Oleh karena itu kekurangan-kekurangan pada siklus I dapat diatasi. Guru sudah mampu menggunakan waktu sebaik-baiknya.
a)   tahap prapenulisan
Pada tahap prapenulisan, sebagian besar sudah terlaksana sesuai perencanaan. Dalam menyiapkan kondisi kelas, menyampaikan tujuan pembelajaran, membangkitkan skemata siswa dengan menceritakan gambar seri yang dipajang di depan kelas, menceritakan pengalaman tentang peristiwa dan membuat kerangka karangan sudah terlaksana dengan baik. Dalam menceritakan gambar seri yang diacak dan menyusunnya, siswa sudah mulai teratur. Guru sudah menjelaskan cara mencari kata kunci yang sesuai dengan kerangka karangan. Media yang digunakan adalah gambar seri yang dipajang di depan kelas dan ada juga yang dibagikan pada masing-masing siswa. Media yang digunakan sangat jelas dan menarik. Sehingga  siswa dapat mengingat kembali pengalamannya saat melihat gambar seri yang ditampilkan.
b)   tahap penulisan
Pada tahap penulisan pelaksanaan perencanaan sudah terlaksana dengan baik. Guru membimbing siswa saat menulis karangan narasi. Dalam mengarang siswa sudah langsung menulis tidak ada lagi siswa yang masih ragu-ragu dalam menulis karangan. Siswa tidak kesilitan lagi dalam mencari ide. Siswa sudah bisa mengembangkan idenya sesuai dengan judul karanganya.
c)    tahap pascapenulisan
Pada tahap pascapenulisan, guru sudah melaksanakan dengan baik. Guru membimbing siswa saat melakukan perevisian dan pengeditan karangannya. Setelah diperiksa karangan dengan mengeditnya diperbaiki ke dalam bentuk karangan yang siap dipublikan. Setelah diperbaiki kemudian dibacakan ke depan kelas. Dalam membacakan ke depan kelas siswa menunggu giliran masing-masing. Dan siswa yang lain mendengarkan temannya membacakan hasil karanganya. Siswa membacakan karangannya dengan lafal, intonasi dan kenyaringan suara sudah tepat.
2)    Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
Dari aspek siswa ditemukan informasi, bahwa siswa juga sudah melaksanakan seluruh poin-poin yang terdapat dalam format pencatatan lapangan. Dan berdasarkan hasil observasi dari aspek siswa. Siswa bersemangat dalam melaksanakan menulis karangan narasi, siswa terlihat aktif menjawab pertanyaan guru. Dan  siswa dapat menulis karangan narasi dengan baik. Mengenai hasil lembar pengamatan dari aspek siswa pada siklus I adalah 83,33.
a)   tahap prapenulisan
Pada tahap prapenulisan, keterlibatan siswa dalam menceritakan gambar seri yang diacak dan mengurutkan gambar seri sesuai dengan peristiwa sudah terlaksana dengan baik. Siswa aktif dan antusias dalam mengikuti proses pembelajaran. Siswa sudah memahami cara mencari kata kunci dalam membuat kerangka karangan. Sudah dapat merincikan kegiatan yang dilaksanakan selama mengamati gambar seri yang menjadi peristiwa yang pernah dialami oleh sebahagian siswa.
b)   tahap penulisan
Pada tahap penulisan siswa, dalam mencari ide siswa tidak kesulitan lagi. Kalimat dan gaya yang digunakan sudah bervariasi, sehingga enak dibaca. Struktur kalimat yang digunakan mudah dipahami. Karangan siswa terlihat rapi dan bersih.
c)    tahap pascapenulisan
Tahap pascapenulisan merupakan tahap akhir dari tahap penulisan karangan, tahap perevisian dan pengeditan sudah terlaksanan dengan baik. Pada tahap publikasi semua siswa sangat antusias ingin membacakan hasil karangannya ke depan kelas. Siswa dengan sabar menunggu giliran untuk membacakan hasil karangannya ke depan kelas. Siswa membacakan karangan dengan lafal, intonasi dan suara yang nyaring. Dalam membacakan karangan ke depan kelas siswa tidak tergesa-gesa.
Dari lembaran pengamatan aktivitas guru dan siswa dapat disimpulkan bahwa penyelenggaraan proses pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan gambar seri sudah sesuai dengan RPP yang disusun. Ini didasarkan pada lembaran pengamatan siswa, bahwa dari 36 deskriptor muncul sebanyak 30 deskriptor, sehingga skor kegiatan siswa meningkat menjadi 83,33%.
Dari nilai yang diperoleh siswa dapat disimpulkan bahwa pembelajaran  menulis karangan narasi dengan menggunakan gambar seri pada tahap prapenulisan pada siklus II telah terlaksana dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.
 Dari pengolahan nilai, didapatkan rata-rata nilai proses menulis karangan narasi dengan menggunakan gambar seri pada tahap pascapenulisan yang dicapai oleh siswa adalah 81,3% semua siswa tuntas 15 orang. Penilain hasil menulis karangan narasi dengan menggunakan gambar seri pada siklus II ini mencapai rata-rata 81,3 dari 20 orang siswa 15 orang siswa ketuntasan (75%) dan yang belum memenuhi standar ketuntasan (25%) 5 orang.
Dari pengamatan dapat disimpulkan bahwa nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 66,7. Ketuntasan nilai belajar yang diharapkan sudah mencapai target. Ketuntasan yang diperoleh 84% sedangkan ketuntasan minimal adalah 70%.  Dari nilai yang diperoleh siswa dapat disimpulkan bahwa pembelajaran  menulis karangan narasi dengan menggunakan gambar seri pada tahap pascapenulisan pada siklus II telah terlaksana dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.
Berdasarkan nilai yang diperoleh siswa dari penilaian proses dan hasil, rata-rata hasil nilai menulis karangan narasi siswa dengan menggunakan gambar seri adalah 81,3.
PEMBAHASAN
Pada siklus I tahap pramenulis hasil penelitian proses pembelajaran menulis karangan narasi dengan mengggunakan gambar seri di kelas IV SDN No. 39 Tanjung Aur Kecamatan Koto Tangah Kota Padang, tergambar bahwa pelaksanaan pembelajaran telah sesuai dengan perencanaan (RPP). Pada tahap prapenulisan hanya 10 deskriptor yang muncul dari 16 skor maksimal, jumlah skor diperoleh adalah 62,5%. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa pada pertemuan I pada tahap prapenulisan 60,83. Persentase  ketuntasan yang  dicapai 60%, sedangkan ketuntas yang harus dicapai 70%. Untuk mengatasi kelemahan pada tahap prapenulisan ini guru memperbaiki pada perencanaan dan pelaksanaan disesuaikan dengan rencana yang dirumuskan, sehingga di dapat karangan narasi yang sesuai dengan perumusan karangka karangan yang telah dijabarkan menjadi paragraf dan karangan utuh.
Pada tahap penulisan penilaian dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Dalam penelitian ini dilakukan penilaian proses dan penilaian hasil. Pada penilaian proses pembelajaran dilakukan pada tahap penulisan. Sedangkan penilaian hasil dilakukan saat penulisan yaitu hasil dari karangan siswa. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa pada tahap penulisan adalah 59,58. Persentase ketuntasan belajar siswa hanya 65%.
Sedangkan skor yang diperoleh hanya 4 dari 8 skor maksimal dengan hasil 50%. Pada tahap pasca penulisan nilai yang diperoleh siswa akan dapat  dilihat ketuntasan belajar yang telah dicapai siswa selama proses pembelajaran. Ketuntasan belajar merupakan suatu sistem belajar yang mengharapkan sebagian besar siswa menguasai tujuan tertentu secara tuntas. Pada tahap pascapenulisan rata-rata nilai yang diperoleh siswa adalah 59,98. Persentase ketuntasan belajar siswa 65%. Skor pengamatan 7 deskriptor muncul dari 12 skor maksimal dengan hasil 58,3%. Sedangkan skor keseluruhan adalah 21 dari 36 skor maksimal dengan hasil 58,33%.
Pada siklus I kemampuan siswa menulis narasi belum tuntas, hal tersebut dapat dilihat dari nilai yang diperoleh siswa. Penguasaan tujuan dapat dikatakan tuntas apabila  75% dari jumlah siswa telah menguasai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, dari 75% jumlah siswa yang tuntas menguasai sekurang-kurangnya 70% tujuan yang telah ditetapkan. Rekapitulais nilai menulis karangan narasi dengan menggunakan gambar seri yang diperoleh siswa baik dari penilaian hasil rata-ratanya adalah 63,6 dengan persentase 64%. Jadi pada siklus I target ketuntasan belum tercapai.
Pada siklus II hasil nilai siswa sudah mencapai nilai ketuntasan. Pada tahap prapenulisan nilai rata-rata nilai yang diperoleh siswa 75,4 dengan persentase ketuntasan 75%. Pada tahap penulisan rata-rata nilai siswa 83,3, sedangkan persentase ketuntasan yang diperoleh 83%, dan pada tahap pascapenulisan, rata-rata nilai siswa adalah 91,7, dengan ketuntasan 92%. Pembahasannya yang akan dijabarkan didasarkan pada teori yang berkaitan dengan tahap pelaksanaan gambar seri pada tahap prapenulisan, penulisan, dan pascapenulisan.
Pada tahap prapenulisan kegiatan yang dilakukan adalah menyiapkan kondisi kelas untuk belajar dengan mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan  dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan berupa media, mengatur tempat duduk siswa. Lalu berdoa bersama sesuai dengan ajaran agama masing-masing siswa. Kemudian mengecek kehadiran siswa. Selanjutnya menyiapkan siswa untuk belajar dengan cara menyampaikan tujuan pembelajaran agar siswa akan terfokus pada tujuan pembelajaran tersebut.
Pada tahap prapenulisan ini, penulis membangkitkan skemata siswa. Hal ini penting dilakukan karena pengetahuan dibangun berdasarkan pengetahuan awal. Hal ini sesuai dengan pandangan awal siswa membangun pengetahuannya berdasarkan pengalaman yang dimiliki siswa. Pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa sangat berpengaruh pada pemerolehan hasil belajar.
Pengaktifan pengetahuan awal siswa pada siklus I dilakukan dengan cara mengamati gambar seri yang dipajangkan di depan kelas. Dari gambar yang diamati peneliti bertanya jawab dengan siswa tentang gambar. Sehingga pembelajaran akan lebih bermakna. Selanjutnya siswa juga menceritakan pengalamannya dengan bahasa sendiri berdasarkan urutan kejadiannya. Dalam menceritakan pengalamannya siswa masih malu-malu. Hal ini disebabkan siswa kurang berani tampil ke depan kelas.
Pada  siklus II siswa juga menceritakan pengalamannya dengan bahasa sendiri berdasarkan urutan kejadiannya.  Siswa sangat antusias saat menceritakan pengalaman sesuai peristiwa yang terdapat dalam gambar seri. Tidak ada lagi siswa yang malu-malu. Siswa menunggu giliran dengan sabar untuk menceritakan pengalamannya sesuai dengan gambar seri.
Dari cerita siswa tentang pengalamannya yang diurutkan berdasarkan urutan waktu gambar seri, kemudian bertanya jawab tentang tujuan dan langkah-langkah dari menulis karangan narasi. Dari jawaban-jawaban yang diberikan siswa tersebut, siswa dapat menyebutkan tujuan dan langkah-langkah menulis karangan narasi. Kemudian peneliti meluruskan pendapat siswa tentang tujuan dan langkah-langkah menulis karangan narasi.
Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa memperoleh pengetahuan siswa diminta menyusun kerangka karangan. Kerangka karangan yang dibuat sesuai dengan pengalaman siswa. Selain itu juga kerangka karangan yang buat sesuai dengan urutan waktunya. Dalam menyususun kerangka karangan siswa kesulitan dalam mencari kata kunci yang sesuai dengan kerangka karangannya.
Tahap penulisan siswa mengembangkan gagasan pokok dan detail penjelasananya dalam bentuk kalimat, dan paragraf sehingga menjadi sebuah karangan utuh. Setelah siswa membuat kerangka karangan sesuai dengan urutan waktu, penulis menugasi siswa mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan utuh berdasarkan kerangka karangan yang telah dibuat siswa. Karangan dikembangkan dengan mengembangkan gagasan pokok secara rinci sehinggga menjadi sebuah kerangan utuh. Gagasan-gagasan pokok dirinci dengan menjadi kalimat-kalimat. Dari kalimat-kalimat disusun menjadi sebuah paragraf dan dari paragraf dapat sebuah wacana (karangan utuh). Pada saat siswa mengarang penulis membimbing siswa baik secara klasikal atau secara individu, sehingga siswa benar-benar dapat dilihat kekurangan-kekurangan dalam menulis karangan.
Karangan yang sudat dibuat direvisi dan diedit. Setelah direvisi dan diedit karangannya, peneliti menugasi siswa membacakan karangannya ke depan kelas sebagai bentuk publikasi. Proses perevisian yang perlu diperhatikan yaitu stuktur karangan yang berupa ide/gagasan, sedangkan  tahap revisi yang diperhatikan adalah mekanisme karangan  ynag meliputi ejaan dan tanda baca. Karangan yang sudah direvisi dan diedit kemudian diperbaiki sesuai dengan hasil revisi.
Setelah karangan diperbaiki, siswa membacakan hasil karangan di depan kelas. Dalam membacakan hasil karangan siswa ke depan kelas  pada siklus I siswa kurang berani dalam membacakan karangannya. Pada siklus II dalam membacakan hasil karangan  ke dapan kelas siswa sudah berani membacakan dengan lafal, intonasi yang tepat dan suara yang nyaring. Selanjutnya siswa menyimpulkan pelajaran  di bawah bimbingan penulis.
KESIMPULAN
Permasalahan yang dihadapi siswa sewaktu pembelajaran menulis karangan narasi adalah sulitnya siswa mengungkapkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan, karangan yang dihasilkan belum tertata dengan baik, antara topik dengan isi karangan belum sesuai, belum ada keterpaduan antar kalimat, belum ada koherensi antar paragraph, belum menggunakan tanda baca yang tepat, upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menggunakan gambar seri. Penggunaan gambar seri terbukti dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi, karena pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan gambar seri, sehingga pembelajaran hidup dan bergairah.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada kedua siklus dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan gambar seri dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa. Secara khusus disajikan kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tahap prapenulisan merupakan awal dari kegiatan pembelajaran menulis karangan narasi. Ide atau gagasan siswa dapat digali pada langkah pengaktifan pengetahuan awal dengan memajangkan gambar seri serta memberikan acuan-acuan pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa, dengan demikian siswa mampu menuliskan ide-idenya sesuai gambar yang dipajang guru di depan kelas berdasarkan pengalaman mereka masing.
Kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi bisa ditingkatkan pada tahap pemahaman pengetahuan dengan memberikan contoh cara mengembangkan kerangka karangan menjadi paragraf  yang memuat karangan narasi, sehingga siswa dapat menuangkan pengalamannya dalam bentuk karangan narasi.
Pembelajaran menulis karangan narasi pada tahap penulisan merupakan tahap pengeditan, revisi dan publikasi. Pada tahap  perevisi dan pengeditan dilakukan di bawah bimbingan penulis. Tahap publikasi dilakukan dengan menugasi siswa membacakan karangan siswa  ke depan kelas dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat. Siswa mampu memperluas pengetahuan awalnya setelah mengikuti pebelajaran dan mengaplikasikannya dengan mengedit karangan temannya sesuai dengan pengetahuan baru yang mereka peroleh, sehingga mampu menulis karangan narasi dengan baik.
SARAN
Pada tahap prapenulisan menulis karangan narasi dengan menggunakan gambar seri diharapkan agar guru dapat membangkitkan skemata siswa dan mengaitkan skemata siswa tersebut dengan pengalaman siswa. Pengalaman siswa merupakan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa. Dengan adanya pengetahuan awal maka proses pembelajaran akan mudah dilaksanakan dengan baik.
Pada tahap penulisan menulis karangan narasi dengan menggunakan gambar seri penulis sarankan agar guru dapat membimbing siswa dalam mencari ide, mengembangkan ide sehinggga menjadi karangan utuh.
Pada tahap pascapenulisan menulis karangan narasi dengan menggunakan gambar seri hendaknya guru membimbing siswa  dalam melakukan revisi, pengeditan dan publikasi. Pada tahap publikasi siswa dapat membacakan karangan narasi dengan lafal, intonasi, dan suara yang jelas.
                                                           DAFTAR RUJUKAN
Azhar. 2001. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

---------- 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.


Muri Yusuf.2007. Metodologi Penelitian. Padang. UNP Press

Nana. 2007. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung : Sinar Baru Algensindo Offset.

Saleh. 2006. Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Efektif Di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas

_______ 2004. Keterampilan Menulis. Jakarta : Universitas Terbuka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar